Sabtu, 24 November 2018

suara anakku

aku berada dipojok dan tidak ada orang yang mau menatapku kecuali dia, ibuku yang melahirkan diriku. Bukan lahir normal ataupun sesar, melainkan lahir dari buah pikirnya.
Kusaksikan orang berlalu lalang didepanku, aku menatap mereeka, dan mereka mengacuhkan ku. ini tidak adil, mataku bahkan tak pernah sedetik pun berkedip melihat tingkah kaku mereka, menyaksikan gaya kritik dibuat buat ala kritikus seni yang sedang kencing. aku tepat berada pada ruang dimana aku sesak dipenuhi orang yang tak acuh, sebagai benda aku hanya ingin diperhatikan.

itu saja

Jumat, 23 November 2018

Intim yang canggung


/Jurang jurang pemisah antara diri kita adalah ke”aku”an yang sama sama kita bangun menjadi tembok pembatas antara dua orang yang usang dalam keterasingan. Aku adalah kau yang sama sama menghidupi diam, terlalu canggung untuk bersuara sekedar sapaan “Hai” yang terpendam./


/Aku usap rambut dan berbisik, "pada matamu kutemukan dendam dan keteduhan yang tak bersudah. Aku mencintaimu seperti anak ayam mencari induk yang tengah mati kelaparan. Aku membutuhkan nafasmu dalam diriku, untuk hidup, dan  bunuh diri."//

Kekasihku




Perkenalkan, nama saya Hari Jum'at. 
Saya memiliki kawan bernama Kesedihan. Ia adalah sahabat  sekaligus kekasih saya. Saya sudah terbiasa dengan kesedihan. Dia selalu merangkak masuk ke kepala saya  pada jam jam malam ketika semua orang lelap dalam mimpinya. Saya dan dia, adalah sepasang kekasih yang tidak saling menyakiti, hanya saya saja yang sakit, dia tidak. Dialah kesedihan itu, kesedihan saya.
Saya suka menulis dirinya, karena begitu menyatunya dirinya dengan saya, nafas saya adalah kesedihan, dan semua nya adalah refleksi dari keberadaanya. Kesedihan, dialah kekasih saya.


Kesedihan, bulan purnama, dan nyanyian jangkrik di malam yang terang. saya suka ketika mereka akur dan tidak saling menyalahkan satu sama lain. saya senang mendengar dan melihat mereka kompak menyerang saya. menyerang saya dan membuat hari terasa lebih sunyi, lebih menyakitkan, lebih eksotis, dan. saya menyukainya. 

Jumat, 27 Juli 2018

Risalah Sabtu


Hai. namaku hari sabtu, aku disukai orang orang, aku dicintai semua keluarga, aku disayangi semua pegawai, aku disukai anak anak dari jenjang TK sampai SMA, juga muda mudi yang akan melepas rindunya, di mana saja.

Aku lahir sebelum adikku lahir, ia bernama hari minggu. orang orang menyukai juga, tapi akan mengeluh ketika hari minggu sudah sampai di batas akhir waktunya: malam menjelang hari senin.

Kenapa orang orang bersorak ketika aku tiba? aku tidak tahu. bagiku semua hari terlahir sama. Aku biasa saja, orang orang yang tidak biasa. sebenarnya, mereka-lah yang melahirkan hari hari terasa membosankan. Mereka membuat perencanaan-perencanaan, kemudian melakukan, melupakan dirinya sendiri, atau orang yang disayangi, dan mungkin melupakan waktu. mereka membuat daftar yang akan dilakukan, bekerja, mencari uang, kemudian bercita cita membeli waktu.
Aku suka geli melihat bahwa kenyataannya manusia telah membuat hidupnya begitu rumit, mereka sibuk melahap buku buku dan berdebat, tentang siapa yang paling benar, siapa yang salah, Membuka kitab kitab dan mencari pembenaran dirinya, atas kemauannya sendiri. melafalkan  teori teori tentang hidup yang pada akhirnya akan membuatnya kebingungan dengan teori tersebut.

Bukankah hidup sebenarnya sederhana?
Sesederhana menghirup nafas dan menghembuskannya? dan jika sudah habis masanya, ia kembali meniada. menjadi keberadaan yang meruang, butir butir halus dan menjadi apa saja.

Senin, 21 Mei 2018

L A K I L A K I

H A R G A D I R I

LAMA LAMA MATI

KESANA KEMARI

MULTITASKING ADALAH MODAL

sahabat adalah tempat
bertukar sebat
ditutup/menutup rapat rapat
m e n g a s i h i

KENAPA TAK JADI GAY SAJA?

P E R E M P U A N

SETIAP GERIKNYA ADALAH PERTEMPURAN

YANG ANGGUN MEMATIKAN

berapa banyak perempuan murni menangisi pria?
toh pada akhirnya alasannya klise, 
pria punya perempuan lain yang membuat si perempuan menangis

INTINYA, PEREMPUAN MENANGISI PEREMPUAN

KENAPA TAK JADI LESBIAN SAJA?

Sabtu, 31 Maret 2018

saya dan frida adalah dua sosok yang berbeda, tentu saja

Diletakkannya lukisan lukisan itu, berjejer rapi berderet disandarkan pada tembok. Ia berjalan mencium bau cat yang belum kering, bernafas lega telah melahirkan anak anaknya, bukan anak biologis tentunya. Ia bermimpi menjadi Frida Kahlo dengan segala kesedihan yang menyelimuti dirinya, juga sisi artistik yang dimiliki oleh Frida, tentu saja. anak-anak yang lahir dari kesedihan, bergelayut manja di bahu ibunya. Malang memang, namun apa boleh buat. Ia bukan Frida Kahlo,  kesedihannya belum sepadan dengan apa yang Frida semasa hidup rasakan.
Jadi siapakah ia?
ia adalah saya, dan saya bukanlah seorang Frida.

Melahirkan anak memang sakit, kata orang orang seperti mau mati saja. secara fisik, ia memaksa keluar dari celah sempit yang dihimpit oleh kedua paha, bayangkan saja bagaimana rasanya, jika kau perempuan pasti kelak kau akan merasakan.

Melahirkan anak-anak dalam kanvas atau kertas juga sama sakitnya, meski bukan secara fisik, sakit itu lebih halus dan berada dalam setiap desir darah atau udara yang sedang dihirup. ia selamanya menetap disana, sakit itu tidak pernah berdarah. Sakit itu lebih santun, lebih sopan, mereka hanya akan datang ketika jiwa sedang kering dan kosong, pada malam malam atau dini hari misalnya.