Sabtu, 31 Maret 2018

saya dan frida adalah dua sosok yang berbeda, tentu saja

Diletakkannya lukisan lukisan itu, berjejer rapi berderet disandarkan pada tembok. Ia berjalan mencium bau cat yang belum kering, bernafas lega telah melahirkan anak anaknya, bukan anak biologis tentunya. Ia bermimpi menjadi Frida Kahlo dengan segala kesedihan yang menyelimuti dirinya, juga sisi artistik yang dimiliki oleh Frida, tentu saja. anak-anak yang lahir dari kesedihan, bergelayut manja di bahu ibunya. Malang memang, namun apa boleh buat. Ia bukan Frida Kahlo,  kesedihannya belum sepadan dengan apa yang Frida semasa hidup rasakan.
Jadi siapakah ia?
ia adalah saya, dan saya bukanlah seorang Frida.

Melahirkan anak memang sakit, kata orang orang seperti mau mati saja. secara fisik, ia memaksa keluar dari celah sempit yang dihimpit oleh kedua paha, bayangkan saja bagaimana rasanya, jika kau perempuan pasti kelak kau akan merasakan.

Melahirkan anak-anak dalam kanvas atau kertas juga sama sakitnya, meski bukan secara fisik, sakit itu lebih halus dan berada dalam setiap desir darah atau udara yang sedang dihirup. ia selamanya menetap disana, sakit itu tidak pernah berdarah. Sakit itu lebih santun, lebih sopan, mereka hanya akan datang ketika jiwa sedang kering dan kosong, pada malam malam atau dini hari misalnya.