05 mei 2019
dear sahabat kecilku yang apabila masih didunia mungkin sudah menginjak 22 tahun, pada hari ini minggu, 05 mei 2019.
apakabar kau disana? kau sedang apa?
apakah kau nyaman dan tidurmu tentram? apakah kau masih bisa bermimpi?
ingatanku melambung saat kau membentakku karena aku meminjam sendalmu, kita masih anak anak saat itu. bertengkar dihalaman. sandal ku buang dan aku pergi pulang, kerumah nenek.
esok hari seperti sediakala, melupakan cerita kemarin dan bersenang senang, tertawa lagi. tahun demi tahun akan seperti ini, meracau di teras, dan bahagia ; suatu hal yang sedang kurindukan saat ini.
hai dek, aku penasaran dengan tempat yang sedang kau huni saat ini. apakah seperti yang kitab-leluhur-kita jelaskan pada saat kita sedang mengaji?
besok, disini, ditempat kita dulu yang bernama bumi, akan menunaikan ibadah puasa, Ramadhan.
Apakah kau juga?
Untitled 333
Konsisten pada ketidakkonsistenan
Minggu, 05 Mei 2019
Sabtu, 24 November 2018
suara anakku
aku berada dipojok dan tidak ada orang yang mau menatapku kecuali dia, ibuku yang melahirkan diriku. Bukan lahir normal ataupun sesar, melainkan lahir dari buah pikirnya.
Kusaksikan orang berlalu lalang didepanku, aku menatap mereeka, dan mereka mengacuhkan ku. ini tidak adil, mataku bahkan tak pernah sedetik pun berkedip melihat tingkah kaku mereka, menyaksikan gaya kritik dibuat buat ala kritikus seni yang sedang kencing. aku tepat berada pada ruang dimana aku sesak dipenuhi orang yang tak acuh, sebagai benda aku hanya ingin diperhatikan.
itu saja
itu saja
Jumat, 23 November 2018
Intim yang canggung
/Jurang jurang pemisah antara diri kita adalah ke”aku”an yang sama sama kita bangun menjadi tembok pembatas antara dua orang yang usang dalam keterasingan. Aku adalah kau yang sama sama menghidupi diam, terlalu canggung untuk bersuara sekedar sapaan “Hai” yang terpendam./
/Aku usap rambut dan berbisik, "pada matamu kutemukan dendam dan keteduhan yang tak bersudah. Aku mencintaimu seperti anak ayam mencari induk yang tengah mati kelaparan. Aku membutuhkan nafasmu dalam diriku, untuk hidup, dan bunuh diri."//
Kekasihku
Saya memiliki kawan bernama Kesedihan. Ia adalah sahabat sekaligus kekasih saya. Saya sudah
terbiasa dengan kesedihan. Dia selalu merangkak masuk ke kepala saya pada jam jam malam ketika semua orang lelap
dalam mimpinya. Saya dan dia, adalah sepasang kekasih yang tidak saling
menyakiti, hanya saya saja yang sakit, dia tidak. Dialah kesedihan itu,
kesedihan saya.
Saya suka
menulis dirinya, karena begitu menyatunya dirinya dengan saya, nafas saya
adalah kesedihan, dan semua nya adalah refleksi dari keberadaanya. Kesedihan,
dialah kekasih saya.
Kesedihan, bulan purnama, dan nyanyian jangkrik di malam yang terang. saya suka ketika mereka akur dan tidak saling menyalahkan satu sama lain. saya senang mendengar dan melihat mereka kompak menyerang saya. menyerang saya dan membuat hari terasa lebih sunyi, lebih menyakitkan, lebih eksotis, dan. saya menyukainya.
Jumat, 27 Juli 2018
Risalah Sabtu
Hai. namaku hari sabtu, aku disukai orang orang, aku dicintai semua keluarga, aku disayangi semua pegawai, aku disukai anak anak dari jenjang TK sampai SMA, juga muda mudi yang akan melepas rindunya, di mana saja.
Aku lahir sebelum adikku lahir, ia bernama hari minggu. orang orang menyukai juga, tapi akan mengeluh ketika hari minggu sudah sampai di batas akhir waktunya: malam menjelang hari senin.
Aku lahir sebelum adikku lahir, ia bernama hari minggu. orang orang menyukai juga, tapi akan mengeluh ketika hari minggu sudah sampai di batas akhir waktunya: malam menjelang hari senin.
Kenapa orang orang bersorak ketika aku tiba? aku tidak tahu. bagiku semua hari terlahir sama. Aku biasa saja, orang orang yang tidak biasa. sebenarnya, mereka-lah yang melahirkan hari hari terasa membosankan. Mereka membuat perencanaan-perencanaan, kemudian melakukan, melupakan dirinya sendiri, atau orang yang disayangi, dan mungkin melupakan waktu. mereka membuat daftar yang akan dilakukan, bekerja, mencari uang, kemudian bercita cita membeli waktu.
Aku suka geli melihat bahwa kenyataannya manusia telah membuat hidupnya begitu rumit, mereka sibuk melahap buku buku dan berdebat, tentang siapa yang paling benar, siapa yang salah, Membuka kitab kitab dan mencari pembenaran dirinya, atas kemauannya sendiri. melafalkan teori teori tentang hidup yang pada akhirnya akan membuatnya kebingungan dengan teori tersebut.
Bukankah hidup sebenarnya sederhana?
Sesederhana menghirup nafas dan menghembuskannya? dan jika sudah habis masanya, ia kembali meniada. menjadi keberadaan yang meruang, butir butir halus dan menjadi apa saja.
Aku suka geli melihat bahwa kenyataannya manusia telah membuat hidupnya begitu rumit, mereka sibuk melahap buku buku dan berdebat, tentang siapa yang paling benar, siapa yang salah, Membuka kitab kitab dan mencari pembenaran dirinya, atas kemauannya sendiri. melafalkan teori teori tentang hidup yang pada akhirnya akan membuatnya kebingungan dengan teori tersebut.
Bukankah hidup sebenarnya sederhana?
Sesederhana menghirup nafas dan menghembuskannya? dan jika sudah habis masanya, ia kembali meniada. menjadi keberadaan yang meruang, butir butir halus dan menjadi apa saja.
Senin, 21 Mei 2018
L A K I L A K I
H A R G A D I R I
LAMA LAMA MATI
KESANA KEMARI
MULTITASKING ADALAH MODAL
sahabat adalah tempat
bertukar sebat
ditutup/menutup rapat rapat
m e n g a s i h i
KENAPA TAK JADI GAY SAJA?
LAMA LAMA MATI
KESANA KEMARI
MULTITASKING ADALAH MODAL
sahabat adalah tempat
bertukar sebat
ditutup/menutup rapat rapat
m e n g a s i h i
KENAPA TAK JADI GAY SAJA?
P E R E M P U A N
SETIAP GERIKNYA ADALAH PERTEMPURAN
YANG ANGGUN MEMATIKAN
berapa banyak perempuan murni menangisi pria?
toh pada akhirnya alasannya klise,
pria punya perempuan lain yang membuat si perempuan menangis
INTINYA, PEREMPUAN MENANGISI PEREMPUAN
KENAPA TAK JADI LESBIAN SAJA?
Langganan:
Postingan (Atom)

