Minggu, 31 Januari 2016

atmosfer warna warni



Semoga saja kau tak akan pernah menemukan blog ku iini. Hahahahaha tai
Hai orang aneh. Kau diam.  Kenapa? Kau terlalu minder berhadapan dengan orang aneh yang seperti aku? Atau kau ilfeel dengan segala keanehanku?  Hei tunggu tunggu. Kau diam atau gengsi dan menjaga jarak denganku? Hei hei Atmosfer biru adalah identitasku. Kenapa kau memakainya dalam sajakmu? Heeeeei kau diam diam bagaimana dengan kediamanmu? Diam diam kau ? apa? Aku yang terlalu percaya diri? Hahahaha mungkin iya!!. Tapi kenapa? Toh aku biasa biasa saja. Sudah banyak manusia datang dan pergi sesuka hati. Aku sudah biasa. Dan aku tak akan menanggapinya seserius aku bercumbu dengan Tuhanku. Tapi tapi taaapi... hei kau diam diam cari dan curi sajaak ku. Kau suka meng copas ya? Atau kau memang hanya punyaku yang engkau salin? Hahahaha berarti sajakku bagus ya? Padahal aku bukan mahasiswa sastra lhoo. Gak kayak kamu.  Kau pernah sebut  diriku salah jurusan, hahaha sepertinya  begitu, mungkin memang begitu.  Nama lain kita adalah kuning! Kau menyebut ku kuning, ku menyebut kau kuning. Tapi sungguh! Kuning, aku lebih dulu suka warna kuning sebelum aku mengenalmu kuning. Hahaha

Hhahaha sekarang kita diam. Kata kata menghilang. Ku tau kau punya sejuta wanita diluar sana, itu manusiawi. Ketika kau diam denganku kau pasti sedang bercakap dengan yang bertebaran lainnya di luar sana. Aku tau, dan aku biasa saja. Itu manusiawi, sedangkan aku alien. Yeaaah

Dan ,, Ini sajak  yang kau buat (tapi) mengadopsi atmosfer biru ku yang sengaja aku diam diam mencuri dari akun sosial mediamu yang diam diam pasti kau tak mengerti jika aku mengetahui akunmu HAHA

Kau salah satu orang aneh yang tertulis di blog ku ini, yang sedikit aku terguncang tertarik oleh medan magnetmu.  Lain dari itu mereka yang tak tertulis adalah orang yang belum cukup aneh, atau memang karena aku tak sempat nulis, atau memang karena jaringan disini kek entut dibuntel suwal! hehehehe



Senin, 25 Januari 2016

orang aneh

Katamu kau orang aneh yang tiba tiba tersesat menemukan aku yang katamu aneh juga.
Aku aneh. kamu aneh.
Ini dunia yang aneh.
Katamu kau aneh
Katamu orang orang menganggapmu orang aneh
Aku aneh kau aneh
mari kita membuat dunia yang lebih aneh
yang hanya aku dan kau yang bisa merasakan dunia itu
dunia buatan kita
dunia imajiner kita.

ah ku kira kau benar benar aneh
melihat keanehanku saja
ternyata kau hilang. kau aneh apa pura pura aneh?

Sabtu, 29 Agustus 2015

Minggu, 09 Agustus 2015

People NOWADAYS

udah ya.. males ngomong mending liat aja itu gambar. itu gambar buat kalian kalian yang ngerasa kreatif, tapi, kreatif kalian itu hasil copas. a.k.a NJIPLAK punya orang lain.

Jumat, 07 Agustus 2015

Norma (again) ?

http://bookboon.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/standing-out-11-1024x620.jpg

Saya heran dengan mayoritas orang disini. Hidupnya hanya terpaku pada norma melulu.
Apa yang dianggap salah di masyarakat, lalu ditinggalkan. Yang dianggap benar dimasyarakat dilakukan. Seperti hidupnya hanya bergantung pada masyarakat. Dan mungkin inilah yang dinamakan kebenaran umum, siapa yang paling banyak , ialah yang benar. Padahal, salah belum tentu salah, dan benar belum tentu benar.

Benar-salah adalah suatu konsep yang hanya berasal dari pikiran kita. Itu tak sepenuhnya nyata. Benar-salah itu menurut saya relatif, dan dinamis, karena tak ada dasar untuk mengatakan si A salah dan si B benar. Oke, katakanlah ada Hukum yang mendasari ini salah dan ini benar. Tapi bukankah hukum juga hasil campur tangan manusia? Singkatnya Hukum adalah suatu aturan yang telah dibuat sedemikian rupa oleh manusia. Hukum tidak ada dengan sendirinya. Jadi kalau begini, kenapa kita tidak membuat hukum untuk diri kita sendiri? Maksud saya begini, kita tak usah mempedulikan hukum yang telah dibuat berabad abad lalu, kita buat hukum untuk diri kita sendiri berupa “kesadaran” , misalnya : ada anak kecil di seberang jalan sebatang kara mencari makan dengan cara mengemis. Apa yang kita lakukan ? tentu menurut hukum(agama) seharusnya kita mendatangi anak tersebut dan memberi santunan. Oke itu baik tapi disitu kita hanya seperti “memberi karena kita dapat imbalan” (red: pahala). Maksud saya, hilangkan cara pandang yang seperti ini. Kita berbuat baik terhadap sesama jangan karena hukum yang telah dituliskan oleh agama. Hendaknya kita berbuat baik atas nama hati nurani kita, tak mengharap apa apa, dan inilah kesadaran kita.
Seperti juga katakanlah mencuri itu hal yang salah. Oke sekali lagi jangan takut mencuri karena takut dihukum(dipenjara), takut masuk neraka, dll. Tapi takutlah pada hati nurani kita masing masing. Kita bayangkan saja, mencuri itu merugikan, dan jika kita berada pada posisi orang yang dicuri pasti sangat sedih dengan hal ini.

Benar salah juga sama seperti itu. Kita jangan bilang ini benar karena masyarakat bilang ini benar, kita koreksi dulu , “benarnya” ini menurut hati nurani kita bagaimana? Kalau menurut nurani kita memang begitu (sejalan dengan kebenaran yang dikatakan masyarakat) ya jalani., tapi kalau “benar” nya masyarakat tak sejalan dengan “benar” nya hati nurani kita, ya jangan ikut ikutan benarnya masyarakat.
Salah pun juga demikian, “Salah” nya masyarakat kita koreksi dulu dengan “salah” nya nurani kita. Jangan asal asalan bilang salah karena masyarakat bilang itu salah, contoh sepele adalah tattoo. Mayoritas masyarakat indonesia mengecap Tattoo itu salah, Tattoo itu kriminal tapi apakah iya tattoo itu salah, dan kriminal? Koreksi lagi didalam nurani mu. (terlepas dari hukum, hukum  ,hukum, agama, syariat, dharma,rimba, hukum,hukum dan lain lain..........)



Senin, 03 Agustus 2015

Atmosfer Biru

http://suziktodd.webs.com/Namaste%20III.gif
Sesekali aku pun ingin memeluk Biru-ku
Biru yang selalu menggebu gebu.
Rindu, Sendu, selalu terhalang batasan
Waktu

Aku ingin menerobos waktu
Seperti saat aku bercumbu rayu dengan
Kesepianku.
Kesepian yang selalu memeluk erat
hingga mengkerdilkan kekuasaan waktu
membangkitkan Biru
mengkerdilkan Waktu
melelehkan Rindu
mengkerdilkan Waktu.







10 mei 2015
Tika Zamzama