
Saya heran dengan mayoritas orang disini. Hidupnya hanya
terpaku pada norma melulu.
Apa yang dianggap salah di masyarakat, lalu ditinggalkan.
Yang dianggap benar dimasyarakat dilakukan. Seperti hidupnya hanya bergantung
pada masyarakat. Dan mungkin inilah yang dinamakan kebenaran umum, siapa yang
paling banyak , ialah yang benar. Padahal, salah belum tentu salah, dan benar
belum tentu benar.
Benar-salah adalah suatu konsep yang hanya berasal dari
pikiran kita. Itu tak sepenuhnya nyata. Benar-salah itu menurut saya relatif,
dan dinamis, karena tak ada dasar untuk mengatakan si A salah dan si B benar.
Oke, katakanlah ada Hukum yang mendasari ini salah dan ini benar. Tapi bukankah
hukum juga hasil campur tangan manusia? Singkatnya Hukum adalah suatu aturan yang
telah dibuat sedemikian rupa oleh manusia. Hukum tidak ada dengan sendirinya.
Jadi kalau begini, kenapa kita tidak membuat hukum untuk diri kita sendiri?
Maksud saya begini, kita tak usah mempedulikan hukum yang telah dibuat berabad
abad lalu, kita buat hukum untuk diri kita sendiri berupa “kesadaran” ,
misalnya : ada anak kecil di seberang jalan sebatang kara mencari makan dengan
cara mengemis. Apa yang kita lakukan ? tentu menurut hukum(agama) seharusnya
kita mendatangi anak tersebut dan memberi santunan. Oke itu baik tapi disitu
kita hanya seperti “memberi karena kita dapat imbalan” (red: pahala). Maksud
saya, hilangkan cara pandang yang seperti ini. Kita berbuat baik terhadap
sesama jangan karena hukum yang telah dituliskan oleh agama. Hendaknya kita berbuat
baik atas nama hati nurani kita, tak mengharap apa apa, dan inilah kesadaran
kita.
Seperti juga katakanlah mencuri itu hal yang salah. Oke
sekali lagi jangan takut mencuri karena takut dihukum(dipenjara), takut masuk
neraka, dll. Tapi takutlah pada hati nurani kita masing masing. Kita bayangkan
saja, mencuri itu merugikan, dan jika kita berada pada posisi orang yang dicuri
pasti sangat sedih dengan hal ini.
Benar salah juga sama seperti itu. Kita jangan bilang ini
benar karena masyarakat bilang ini benar, kita koreksi dulu , “benarnya” ini
menurut hati nurani kita bagaimana? Kalau menurut nurani kita memang begitu
(sejalan dengan kebenaran yang dikatakan masyarakat) ya jalani., tapi kalau
“benar” nya masyarakat tak sejalan dengan “benar” nya hati nurani kita, ya
jangan ikut ikutan benarnya masyarakat.
Salah pun juga demikian, “Salah” nya masyarakat kita koreksi
dulu dengan “salah” nya nurani kita. Jangan asal asalan bilang salah karena
masyarakat bilang itu salah, contoh sepele adalah tattoo. Mayoritas masyarakat
indonesia mengecap Tattoo itu salah, Tattoo itu kriminal tapi apakah iya tattoo
itu salah, dan kriminal? Koreksi lagi didalam nurani mu. (terlepas dari hukum,
hukum ,hukum, agama, syariat,
dharma,rimba, hukum,hukum dan lain lain..........)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar